Menjadi “biker” adalah pilihan

May 8, 2019 0 By yudi

Hidup adalah pilihan, mungkin itu sebuah pepatah yang ada benarnya. Ketika kita memutuskan kemana arah langkah tujuan hidup ini berjalan.
Saya terlahir biasa saja dan ketika beranjak besar saya sering terlibat aktivitas kemasyarakatan dan sosial, dari mulai Osis, BEM, ormas kedaerahan sampai klub motor.

Diusia yang tak lagi muda dan sudah mempunyai tanggung jawab keluarga, saya masih menekuni hobi yang tak kunjung padam, ya… apalagi kalo bukan main motor (bikers). Dari mulai klub vespa sampai motor keluaran terbaru hingga saat ini saya masih aktif berada didalamnya.

Memang bagi sebagian banyak orang mungkin ini adalah hal yang konyol, ketika kita menganggap klub motor adalah bagian dari keluarga baru selain keluarga dirumah. Tapi memang disitulah demikian adanya, hal yang saya rasakan, berada diantara mereka adalah nikmat tersendiri dalam perjalanan hidup ini. Bahkan terkadang hal yang terpenting terabaikan.

Dunia otomotif khususnya motor mulai saya senangi sejak tahun 1996 dan motor pertama saya kala itu adalah Vespa. Di vespa saya menikmati berjuta keindahan silaturahmi, saat itu para scooterist (panggilan untuk anak vespa) tidak membedakan kasta mana kaya dan miskin, itulah kenapa saya makin giat menikmati dunia motor.

Tahun 2010 saya keluar dari pekerjaan utama saya sebagai pekerja kreatif disebuah perusahaan periklanan nasional. Saya memutuskan untuk menjadi pekerja lepas sambil tetap bermain dunia motor. Mungkin orang menganggap saya gila, saat berada dipuncak karir saya malah memutuskan untuk berhenti. Apa yang menyebabkan saya berhenti bekerja? Dunia kerja saat itu adalah hal yang menjenuhkan, saat bekerja waktu saya habis untuk hal-hal yang saya sendiri tidak menikmatinya, tapi bagaimanapun, pada saat itu saya telah memutuskan hal apa harus saya harus lakukan, apapun itu resikonya.

Hingga waktu berlalu dan kehidupan tetap berjalan, saya menikmatinya. Ada banyak waktu sekarang untuk anak. Lain halnya pada saat kerja. Kadang sabtu minggu shooting iklan kejar tayang, waktu kerja gak menentu sampai kadang harus menginap dikantor, aaah sungguh bukanlah dunia saya pada saat itu.

Setelah sembilan tahun berlalu, sampai saat ini saya mensyukuri apa yang telah saya putuskan saat itu, tidak pernah ada rasa sesal sedikitpun, dan saya menikmatinya.
Memang hidup adalah pilihan, teruslah melangkah ketika kesempatan itu masih ada. Saya percaya dengan bersilaturahmi akan membuka pintu lebar rezeki. Sekaya apapun anda tidak akan pernah merasa cukup, semiskin apapun anda tidak akan pernah merasa paling miskin didunia, karena kelak apapun yang kita bawa nanti hanyalah amalan kebaikan kita didunia.

Bukan bermaksud menggurui, tapi belajar dari perjalanan hidup, belajarlah dari kesalahan, belajarlah dari setiap kesempatan baik yang ada didepan matamu. Setiap langkah akan ada rezeki yang tak terduga. Jangan putuskan silaturahmi. Itu penting!